THE LOVE, ADVENTURE, WAR & STOLEN GENERATIONS
Film ini bersetting di sekitar awal tahun 40an. Kala itu, seorang puteri bangsawan Inggris, Sarah Ashley, mewarisi sebuah ladang peternakan seluas negara wilayah Wyoming di Amerika Serikat. Dalam mengelola ladangnya ini, Sarah mempercayakan pada seorang pria bernama Drover. Lama-kelamaan timbul benih-benih cinta diantara mereka. Muncul seorang bocah aborigin yang bernama Nullah. Ashley ingin sekali mengadopsi Nullah sebagai puteranya, namun ternyata hal ini tidaklah mudah untuk diwujudkan. Sementara itu, pengeboman Jepang terhadap Darwin mengakibatkan Ashley dan Drover sempat terpisah. Hal ini semakin diperburuk dengan kebijakan pemerintah Australia yang ingin memisahkan para bocah aborigin dari lingkungan sekitar dan menaruhnya disebuah tempat demi untuk melenyapkan kebudayaan mereka. Lalu, akankah akhirnya Ashley dan Drover bertemu kembali, terlebih dari itu akankah mereka berdua bisa bertemu kembali dengan Nullah. Sementara itu, adapula Neil Fletcher yang ingin merebut ladang peternakan milik Ashley...
FROM MUSICAL TO WESTERN DRAMA
Ketertarikan saya untuk menyaksikan Australia, tentu saja kedua bintangnya, Nicole Kidman dan Hugh Jackman, yang merupakan aktris dan aktor asal Australia yang sudah tenar sebagai bintang Hollywood. Keduanya memang pernah sama-sama mengisi suara dalam film animasi arahan sineas asal Australia, George Miller, Happy Feet. Namun, baru kali ini keduanya dipertemukan dalam sebuah film live action. Jackman berperan sebagai Drover, sementara Kidman sebagai Lady Sarah Ashley. Chemistry keduanya memang lumayan dapat, demikian juga dengan akting mereka. Rasanya bagi mereka yang ngefans dengan kedua bintang ini, akan terpuaskan dengan film ini. Kehadiran mereka didukung pula oleh David Wenham sebagai Neil Fletcher dan aktor pendatang baru, Brandon Walters sebagai Nullah.
Hal kedua yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini adalah sutradaranya yang tak lain adalah Baz Luhrmann, sineas asal negeri kangguru yang sempat meraih sukses lewat Moulin Rouge dan Romeo+Juliet. Namun ternyata, kali ini Luhrmann menggarap film ini dengan durasi yang terasa kepanjangan. Film nampaknya bisa diperpendek durasinya dan cerita pun bisa dipersingkat. Terus terang 60 menit pertama film ini berjalan, saya merasa jenuh. Bahkan mendekati ending rasanya hanya adegan tatkala pemboman kota Darwin serta pertemuan kembali Ashley dan Drover dengan Nullah yang cukup menarik perhatian saya. Konflik antara Ashley dengan Fletcher pun kurang cukup digali. Alhasil, film pun menjadi terasa hambar akibat durasi dan jalan cerita yang sedikit bertele-tele.
Walaupun ada sedikit kekurang puasan yang saya rasakan tatkala menyaksikan film ini, namun rasanya kehadiran Jackman dan Kidman dalam satu screen bisa mengobati rasa kecewa saya. Mudah-mudahan saja dalam karya berikutnya, Luhrmann bisa menggarap sebuah film yang memiliki kualitas setara atau hampir menyamai dua buah masterpiecenya terdahulu yaitu Moulin Rouge dan Romeo+Juliet.