REVIEW APA ARTINYA CINTA?


APA ARTINYA CINTA?

    • Release Date
    • :
    • 02 Nov 2005 (Ind.)
    • Sutradara
    • :
    • Sunil Soraya
    • Pemain
    • :
    • Shandy Aulia, Samuel Riza, Acha Septriasa, Sari Nila, Didi Petet, Mischa Chandrawinata, Betrand Antolin, Ken Ayu Citra, Dimas Beck, Alexander Wiguna, Onky Alexander, Minati Atmanegara, Naomi Gonzales
    • Naskah
    • :
    • Sunil Soraya, Riheam Junianti, Laire Siwi Mentari
    • Reviewer
    • :
    • Haris
    • Review Date
    • :
    • 08 Nov 2005
    • Duration
    • :
    • 134 min.
Dari tim produksi dan pemain utama 'Eiffel I'm In Love' (2003) kini hadir 'Apa Artinya Cinta?' (AAC?) sebagai follow-up blockbuster hit tersebut. Jelas sekali jika film ini diniatkan untuk kembali menjadi hit dalam perfilman Indonesia saat ini. Dengan bujet yang jauh lebih besar, maka 'AAC?' memang tampil dengan lebih menarik. Akan tetapi, apakah kemudian 'AAC?' menjadi lebih baik dari pendahulunya?

Adegan di buka dengan dengan setting sebuah kamar apartemen di Amerika, dimana seorang pria (Samuel Rizal) yang menyatakan rasa cintanya terhadap seseorang yang tidak terlihat di layar. Kemudian, si sosok misterius menunjukkan dirinya dan memeluk sang pria tersebut. Yang mengundang penasaran adalah, sosok tersebut juga ternyata seorang pria! Cerita berpindah ke Indonesia, dimana Aliza (Shandy Aulia), seorang gadis yang baru berusia 17 tahun yang ingin melanjutkan studinya ke Amerika. Atas rekomendasi mamanya, maka Aliza bertemu dengan Dara, anak tetangga baru mereka yang baru pulang untuk liburan. Ternyata Dara kuliah di San Fransisco, Amerika. Dari pertemuan pertama mereka, Aliza mendapatkan kesan yang aneh terhadap Dara, karena ia menganggap Dara sebagai anak dengan kelakuan yang 'aneh'. Apalagi saat kakaknya, Rio (Mischa Chandrawinata), memberitahu Aliza tentang gosip miring tentang 'prilaku' Dara. Namun, entah mengapa, ada sesuatu di diri Dara yang mengundang rasa ingin tahu yang besar dari Aliza. Maka dimulailah usaha Eliza untuk mengetahui siapa sebenarnya Dara itu.

Tidak ada yang spesial dengan plot yang ditawarkan oleh 'AAC?', bahkan cenderung tipikal komedi romantis sekali. Namun, kelucuan-kelucuan yang dibangun oleh situasinya cukup menggelitik, terutama karena adanya prasangka yang telah terbentuk di benak Aliza terhadap Dara. Tentu saja, banyak logika cerita yang perlu ditanyakan, namun ini adalah film hiburan dan ditujukan untuk menghibur penonton tanpa harus berpikir secara berlebihan. Mungkin ini adalah apologi untuk kelemahan cerita 'AAC?'. Selain itu 'AAC?' juga menyediakan sub-plot yang sebenarnya cukup bagus jika dikembangkan dalam sebuah narasi tersendiri, namun sayangnya sub-plot tersebut tidak diperlukan untuk film ini, karena sama sekali tidak ada korelasi dengan struktur cerita yang ingin dibangun.

Film ini disutradarai, diproduseri dan ditulis oleh Sunil Soraya, setelah sebelumnya ia hanya menjabat sebagai produser untuk Eiffel I'm In Love (2003). Sebagai seorang sutradara, tampaknya ia mempunyai visi sinematik dengan nilai artistik yang tinggi, karena secara visual, film ini terasa indah dengan set otherwordly-nya. Memang, dengan set yang terlalu mewah, film ini terkesan sangat tidak realistik. Selain itu, demi mengejar nilai artistik yang tinggi tersebut, Sunil kadang terjebak dalam elaborasi visual yang tidak perlu sama sekali, sehingga cukup mengganggu kenikmatan menonton film. Selain itu, ia tampaknya sangat terobsesi dengan film 'Sin City' (2005), karena selain poster yang menggunakan konsep yang sama, ternyata ada sebuah segmen yang benar-benar memakai konsep filmnya Robert Rodriguez tersebut. Ohya, bahkan untuk segmen company credit dari Soraya Intercine dibuat mirip dengan company credit-nya Marvel. Mungkin maksudnya untuk mengingatkan penonton bahwa ini adalah film dengan gaya dan adegan-adegan yang komikal. Tampaknya taste Sunil Soraya adalah action, karena ia kelihatannya berbakat dalam adegan-adegan aksi. Terutama adegan kebut-kebutan di jalanan San Fransisco, yang tidak kalah menarik dari film H'wood sekalipun.  Mungkin untuk feature selanjutnya ia bisa mengeksplorasi genre tersebut saja.

Tata fotografi film ini juga lumayan menarik, apalagi film ini juga film Indonesia pertama yang memakai Panavision sebagai kameranya dan dengan teknik widescreen (sesuatu yang kini jarang digunakan oleh film Indonesia), sehingga 'AAC?' tampil dengan gambar-gambar yang memanjakan mata. Pemakaian CGI masih jelas terlihat, terutama untuk adegan kebut-kebutan di jalanan San Fransisco, akan tetapi sudah cukup lumayan bagus. Untuk urusan efek khusus, 'AAC?' kelihatannya memang tidak main-main, karena memang banyak menampilkan efek sebagai hiasan visualnya. Sayangnya, untuk hal-hal tersebut, Sunil Soraya belum berani memakai tenaga lokal, karena masih memakai tenaga asing, yang memang terlihat sangat menguasai bidangnya.

Dari segi akting, tidak ada pengembangan yang berarti dari duet Samuel Rizal dan Shandy Aulia. Walau begitu, chemistry mereka yang telah terbangun cukup memberikan kontribusi positif untuk film ini. Samuel masih terlihat kurang natural sementara Shandy belum bisa melepaskan streotype aktingnya. Akan lebih baik jika mereka nanti memilih peran yang lebih menantang. Selain itu, film ini juga menampilkan comebacknya Onky Alexander, yang dulu merupakan iconnya anak muda tahun 80-an melalui seri 'Catatan Si Boy'-nya. Dan dalam film ini Onky kembali berduet dengan Didi Petet, yang tampil sangat menghibur, terutama saat adegan kebut-kebutan tersebut.

Jadi, apakah 'AAC?' lebih baik dari 'Eiffel I'm In Love'? Tampaknya begitu, walau secara kualitas, tidak ada peningkatan yang signifikan. Tapi, setidaknya film ini membuktikan, jika sebuah film dibuat dengan serius, maka film tersebut akan menjadi sebuah film yang menarik.
 
 

2005-2014 Exodiac.com All Rights Reserved.

Photos & certain artwork used on Exodiac are copyright protected and are the property of their respective owners.
Studio logos & other trademarks used herein are the property of their respective owners.